Mengelola Tantrum Balita: Cerita dari Pemkotserang

Sebagai ibu bekerja di Pemkotserang, saya paham betapa capeknya pulang kantor terus disambut teriakan si kecil yang tiba-tiba berguling-guling di lantai gara-gara kue favoritnya habis. Dulu saya sering panik, apalagi kalau kejadian di tempat umum. Sempat berpikir ada yang salah dengan pola asuh saya. Tapi setelah dua tahun jadi ibu, saya sadar tantrum bukan musuh—ini cara balita ngungkapin keterbatasan komunikasinya.
Strategi Sederhana yang Saya Terapkan
Nggak perlu buku tebal atau konsultan mahal. Kuncinya konsistensi dan empati. Salah satu pendekatan yang paling membantu saya: teknik “duduk dan tunggu”. Saat anak mulai meronta, saya langsung duduk setinggi matanya, bukan berdiri. Pandangan mata setara bikin dia merasa didengar, bukan dihakimi. Lalu saya tunggu tanpa bicara—hanya tatapan tenang. Dalam sebntar, intensitas tangisnya biasanya turun. Baru setelah itu saya peluk dan tawarkan pilihan sederhana, misalnya: “Kamu mau minum dulu atau main mobil-mobilan?”
Pendekatan lain yang juga efektif:
- Alihkan perhatian tanpa menyerah pada tuntutan. Misalnya saat dia minta mainan di supermarket, saya ajak ngeliat kipas angin yang muter atau hitung jumlah keranjang. Trik ini sembilan dari sepuluh kali berhasil bangeet.
- Jaga energi diri. Tantrum itu menular ke orangtua. Kalau saya lelah, saya tarik napas panjang dan ingat dia cuma anak kecil yang belum bisa bilang “Bu, aku cape.”
Tidak ada orangtua yang sempurna. Saya sendiri masih sering salah langkah, apalagi pas hari kerja setelah begadang nyelesaiin kerjaan. Yang penting, kita nggak perlu menyalahkan diri. Justru dengan nerima bahwa tantrum adalah proses tumbuh kembang yang normal, kita bisa merespons lebih tenang. Seperti yang ditulis di Wikipedia tentang tantrum, ledakan emosi ini umum pada anak usia 1–4 tahun dan bakal berkurang seiring kemampuan bicara mereka.
Penutupnya simpel: hadapi dengan hati, bukan amarah. Suatu hari kita pasti akan rindu saat-saat rewel mereka, karena artinya dia masih kecil dan butuh kita sepenuhnya. Untuk para ibu di Pemkotserang—dan di mana pun—kita sedang belajar bareng, dan itu udah cukup baik.