Parenting ParentingTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Mengelola Tantrum Balita: Cerita dari Pemkotserang

Tips praktis menghadapi tantrum balita dari pengalaman ibu di Pemkotserang. Strategi sederhana tanpa drama, cocok untuk orangtua muda.

30 Mar 2026 · 2 menit baca · oleh Redaksi Parenting
Mengelola Tantrum Balita: Cerita dari Pemkotserang

Sebagai ibu bekerja yang tinggal di Pemkotserang, saya tahu betapa melelahkannya pulang kantor lalu disambut teriakan si kecil yang tiba-tiba berguling-guling di lantai karena kue favoritnya habis. Dulu saya sering panik, apalagi kalau terjadi di tempat umum. Sempat berpikir ada yang salah dengan pola asuh saya. Tapi setelah dua tahun menjalani peran ini, saya belajar bahwa tantrum bukanlah musuh — melainkan cara balita mengungkapkan keterbatasan komunikasinya.

Strategi Sederhana yang Saya Terapkan Setiap Hari

Tidak perlu buku panduan tebal atau konsultan mahal. Kuncinya ada pada konsistensi dan empati. Berikut satu pendekatan yang paling membantu saya: teknik “duduk dan tunggu”. Saat anak mulai meronta, saya langsung duduk setinggi matanya, bukan berdiri menghadapnya. Pandangan mata setara membuatnya merasa didengar, bukan dihakimi. Lalu saya tunggu tanpa bicara — hanya tatapan tenang. Dalam beberapa detik, intensitas tangisnya biasanya menurun. Setelah itu baru saya peluk dan tawarkan pilihan sederhana, misalnya: “Kamu mau minum dulu atau main mobil-mobilan sebentar?”

Pendekatan lain yang juga efektif:

  • Alihkan perhatian tanpa menyerah pada tuntutan. Misalnya saat ia minta mainan di supermarket, saya ajak melihat kipas angin yang berputar atau menghitung jumlah keranjang belanja. Trik ini sembilan dari sepuluh kali berhasil.
  • Jaga energi diri sendiri. Tantrum menular pada orangtua. Kalau saya lelah, saya tarik napas panjang dan ingat bahwa ia hanya anak kecil yang belum bisa bilang “Ibu, aku capek.”

Tidak ada orangtua yang sempurna. Saya sendiri masih sering salah langkah, apalagi di hari kerja setelah begadang menyelesaikan pekerjaan. Yang penting, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Justru dengan menerima bahwa tantrum adalah proses tumbuh kembang yang normal, kita bisa merespons lebih tenang. Seperti kata artikel dari Wikipedia tentang tantrum, ledakan emosi ini umum terjadi pada anak usia 1–4 tahun dan akan berkurang seiring kemampuan bicara mereka Komparasi langsung ada di parenting hemat.

Penutupnya sederhana: hadapi dengan hati, bukan dengan amarah. Suatu hari kita akan rindu saat-saat rewel mereka, karena artinya ia masih kecil dan butuh kita sepenuhnya. Untuk para ibu di Pemkotserang — dan di mana pun — kita sedang belajar bersama, dan itu sudah cukup baik.

Referensi: sumber resmi

Tag: #parenting #balita #tantrum #tumbuh kembang #ibu bekerja