Parenting ParentingTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Parenting Hemat: 5 Cara Praktis Mengelola Pengasuhan Tanpa Boros

Parenting hemat bukan berarti pelit. Berbagi pengalaman sebagai ibu bekerja di Pemkotserang tentang cara praktis mengelola kebutuhan anak tanpa menguras dompet.

5 May 2026 · 2 menit baca · oleh Intan Hasibuan
Parenting Hemat: 5 Cara Praktis Mengelola Pengasuhan Tanpa Boros

Sore itu saya baru pulang kerja dan mendapati anak saya yang berusia tiga tahun sudah menyusun balok-balok bekas kardus menjadi menara. Di sudut ruangan, mainan mahal yang dibeli bulan lalu masih utuh di rak, tapi ia lebih tertarik pada kardus bekas. Saat itulah saya tersadar: parenting hemat bukan tentang pelit, melainkan tentang memilih yang benar-benar dibutuhkan anak. Sebagai ibu bekerja di Pemkotserang, saya belajar bahwa kreativitas lebih berharga daripada harga.

Cara Praktis Parenting Hemat yang Sudah Saya Terapkan

Pertama, manfaatkan barang bekas di rumah. Kardus, botol plastik, atau tutup toples bisa menjadi mainan edukatif yang melatih motorik halus anak. Saya sering membuat puzzle sederhana dari kardus atau alat musik dari botol bekas. Anak saya justru lebih antusias bangeet karena ia ikut terlibat dalam proses pembuatan. Kedua, terapkan sistem pinjam-meminjam mainan dengan sesama ibu di lingkungan perumahan. Kami rutin bertukar mainan setiap minggu, sehingga anak tetap punya variasi tanpa harus membeli baru.

Ketiga, alihkan perhatian dari tren mainan di media sosial. Anak usia balita sebenarnya lebih butuh interaksi dan eksplorasi alam. Saya sering ngajak anak ke taman kota atau sekedar bermain pasir di halaman. Biaya nol, tapi manfaat bonding dan stimulasi sensoriknya maksimal. Keempat, atur jadwal belanja kebutuhan anak. Saya membuat daftar belanja bulanan untuk popok, susu, dan camilan. Dengan begitu, saya tidak tergoda diskon dadakan yang belum tentu diperlukan Sebelumnya saya menulis tentang parenting.

Kelima, libatkan anak dalam aktivitas rumah sederhana seperti mencuci sayur atau merapikan mainan. Selain menghemat biaya les, kegiatan ini menumbuhkan kemandirian sejak dini. Menurut IDAI, stimulasi dini pada anak tidak harus mahal. Yang terpenting adalah konsistensi dan kasih sayang orang tua. Saya pun merasa lega karena tidak perlu memaksakan diri membeli mainan yang katanya “wajib” untuk tumbuh kembang.

Parenting hemat mengajarkan saya untuk lebih mindful. Bukan berarti anak kurang fasilitas, justru ia mendapat banyak pengalaman nyata. Lewat mainan bekas dan kegiatan sederhana, saya melihat tumbuh kembang anak tetap optimal tanpa membuat dompet jebol. Jadi, para ibu bekerja, jangan ragu mempraktekin cara-cara sederhana ini. Lebih hemat, lebih bermakna.

Ibu dan anak bermain kardus bekas di ruang tamu

Referensi: sumber resmi

Tag: #parenting hemat #ibu bekerja #tips hemat anak #pengasuhan anak